Masyarakat Java Dikumpulkan di Bandung
Java Competency Center (JCC) itu nama. Tapi itu bukan pusat pengembangan keadiluhungan budaya Jawa. JCC merupakan pusat pelatihan dan pengembangan teknologi Java, punya Sun Microsystems, yang kini ada di ratusan juta komputer dan telpon seluler di seluruh dunia.
JCC pertama di Indonesia segera didirikan dan dipusatkan di Kota Kembang Bandung. Tepatnya di kawasan Intitut Teknologi Bandung (ITB) dan Pusat Penelitian Informatika LIPI. Kedua tempat itu masing masing-masing akan memiliki dua center, yaitu JEC (Java Education Center) dan JBRC (Java Business Resource Center).
JEC didesain untuk menangani usaha pengembangan keahlian komunitas Java di Indonesia. Lembaga ini akan berfungsi sebagai Java training center sekaligus dapat menjadi lembaga sertifikasi bagi para pengguna Java. “Pasar utama yang diharapkan adalah mahasiwa/pelajar sebagai pondasi utama pengembangan masyarakat Java,” kata Bhra Eka Gunapriya, President Director, PT Sun Microsystems Indonesia.
Itu diungkapkannya hari ini saat penadatangan nota kesepahaman antara Sun dengan ITB (diwakili Rektor Kusmayanto Kadiman) dan LIPI (diwakili Ketua Umar Anggara Jenie). Acara itu juga disaksikan oleh Menteri Riset dan Teknologi Hatta Rajasa.
Sedangkan JBRC, lanjut Bhra, didesain untuk membantu komunitas Teknologi Informasi (TI) Indonesia agar dapat lebih maksimal memanfaatkan Java sebagai plaform global dalam mengembangkan aplikasi-aplikasi yang powerfull. JBRC juga diharapkan akan berperan sebagai ikubasi bisnis sehingga disana akan terjadi proses pengembangan terhadap solusi yang dibutuhkan pasar.
JBRC pun dapat mengeluarkan sebuah sertifikat, sehingga sebuah piranti lunak yang dihasilkannya lebih mudah diterima dunia usaha. “Pada akhirnya dengan adanya JEC & JBRC ini Indonesia akan memiliki putra-putra yang handal dan mampu bersaing di pasar regional maupun global,” kata Bhra.
Java merupakan salah teknologi piranti lunak paling berpengaruh di dunia saat ini. Menurut rilis Sin, terdaftar lebih dari 4 juta pengembang Java di seluruh dunia, serta lebih 100 juta telepon selular berteknologi J2ME telah beredar di pasaran, dan lebih dari 350 juta Java card dimanfaatkan untuk beragam aplikasi. Bahkan beberapa analis memperkirakan bahwa dalam kurun waktu singkat para pengembang Java akan meningkat menjadi 10 juta pengembang.
Naiknya jumlah pengembang ini, salah satunya lewat JCC tadi, tentu saja. “Salah satu tujuan mendirikan JCC adalah untuk mendukung pertumbuhan jumlah pengembang Java di Indonesia,” kata Bhra. Selain itu, sejak lama Sun telah bekerja sama dengan pemerintah, institusi R&D dan organisasi-organisasi lainnya sebagai usaha membantu pemerintah menggerakkan roda perekonomian Indonesia. “Salah satu contohnya adalah bantuan piranti lunak StarOffice senilai US$ 57 juta kepada Departemen Pendidikan Nasional Indonesia yang diberikan Sun tahun lalu,” tambahnya.
Umar Anggara Jenie, kepala LIPI, mengaku senang LIPI bisa memberi sumbangan dalam proyek yang berpotensi dapat meningkatkan daya saing Indonesia di mata dunia. Menurutnya, JCC akan dikelola oleh Pusat Penelitian Informatika LIPI, yang merupakan lembaga penelitian pemerintah yang khusus melakukan penelitian di bidang TI dengan sumber daya manusia yang kompeten. “Kami optimis dengan perkembangan teknologi Java di Indonesia yang terus merambah ke industri-industri hilir maupun hulu,” katanya.
Kusmayanto Kadiman, Rektor ITB, juga senang. “ITB memiliki reputasi tak tercela sebagai universitas terkemuka di Indonesia yang menghasilkan putra-putra terbaik di bidangnya,” katanya. Salah satu strategi ITB untuk mempertahankan reputasi tersebut, lanjutnya, adalah bekerja sama dengan berbagai perusahaan baik nasional maupun internasional dan organisasi lainnya yang setara reputasinya dengan ITB.
Secara operasional JCC akan dikelola secara profesional oleh sumber daya manusia ITB dan LIPI, sementara Sun Microsystems memberi kontribusi sebagai technology partner yang akan banyak berperan dalam penyediaan platform teknologi Java, Sun Blade 150, dan pelatihan instruktur Java yang memiliki sertifikat khusus.
“Hal strategis lain adanya JCC akan makin memperkuat potensi pengembangan industri TI di Indonesia sejalan dengan proyek strategis Bandung High Tech Valley (BHTV) sebagai Silicon Valley-nya Indonesia,” tambah Kusmayanto Kadiman.
Komunitas pengembang Java merupakan elemen yang berperan besar dalam pendirian JCC ini. Komunitas tersebutlah yang banyak memberi masukan-masukan yang berharga untuk mengoptimalkan fungsi JCC nantinya. Berdasarkan data Sun Microsystems, jumlah pengembang Java di Indonesia ada di kisaran angka 1.000. Dengan berdirinya JCC, Sun berharap dapat meningkatkan 100% jumlahnya, dalam jangka waktu satu tahun. Hal ini yang tentunya akan berdampak positif terhadap proyek-proyek yang berbasis Java di Indonesia untuk lebih berkembang sejalan dengan tren pasar “Open Source”.
Sumber:
Gatra.com (Dani Hamdani)